
r a h m a n u
LUKISAN yang saya tampilkan adalah karya saya sejak 2 tahun setelah tamat dari IKIP MALANG Jurusan Seni Rupa. Saya tamat Tahun 1999, semestinya 1 semester sebelum itu sudah tamat, namun lantaran gara-gara terlambat 5 menit saat Ujian Final pada salah satu mata kuliah, maka saya harus mengulangi lagi selama 1 semester. Benar-benar tanpa ampun. Saya telah teledor sehingga terlambat (kata Prof.AJ.Soeharjo,dosen matakuliah). Begitu penting sekali arti sebuah kedisiplinan baru saya sadari setelah usai kejadian itu. Cerita saya ini adalah benar adanya tlg jangan ditiru…
Diatas ini adalah Lukisan saya saat ada Festival Ultah Jakarta tempo dulu, saya ikutkan sebagai peserta lukis didalamnya. Saya beri judul Ondel-Ondel. Saya buat tahun 2006 yang lalu. Waktu ada mahasiswa UM yang datang ke rumah untuk wawancara tentang Seni Rupa, maka lukisan ini yang diambil fotonya diantara lukisan yang terpajang. Saat saya tanya kenapa pilih lukisan ini, dijawabnya dengan santai, “saya lebih memilih yang ini aja karena aksen coretanya agak berbeda.Gak apa-apa ya..” saya jawab, iya silahkan aja. Memang diantara lukisan saya yang agak jelas kesan “pating dlewer”nya memang Ondel-ondel ini. Saya suka teknik tersebut . Saya lebih bebas dalam menuangkan ide-ide dengan gaya model seperti ini.
Hampir semua karya saya cenderung mengambil obyek Penari Bali. Teman-teman saya para pelukis, guru, dan pecinta seni banyak yang protes. Kenapa kamu membuat karya Penari Bali semuanya…adakah pengetahuanmu tentang Bali dan budayannya…kenapa tidak mengambil tema di Kota Blitar ini aja..saya mendengar masukan itu semua baru mengakui anak-anak…iya kenapa ya..padahal kalau saya ditanya tentang bagaimana cara penyajian penari Bali saya ini tidak tahu. Ditanya tentang nama-nama jenis tarian Bali hanya sedikit pengetahuan saya. Jadi memang seharusnya saya gak ada salahnya untuk introspeksi diri anak-anak…saya se7 dengan masukan mereka semua, yah seperti itulah warna-warni seni itu. Dan saya berterima kasih pada apa yang telah mereka sampaikan itu. Minimal agar saya jadi banyak belajar tentang sesuatu yang dekat dengan saya semisal budaya di Kota Blitar. Yah, coba saya tak berusaha mencari sumber budaya Blitar. Btw ada gak ya yang tahu ?.. Nah, Ini sebagian karya saya yang bertema tentang Penari Bali :

Judul Wajah Penari Bali ukuran 145x 155 cm tahun 2006 karya rahmanu. Karya ini masih saya simpan di rumah alias belum di koleksi orang. Saat ini saya tawarkan 50jt. Memang sih dulu pernah saya tawarkan 70jt pada Pameran Internasional PPPPG di Jogjakarta Tahun 2008 lalu. Namun gak digabres orang, hehehe...(pikirnya hanya begini aja mintanya 70jt gitu kali).Yah barangkali ada yang minat ya alhamdulillah..namun setelah dibawa di Kantor Kementrian Jakarta, ada yang sempat nawar 11jt. Info panitia ke saya agak lambat. Begitu saya se7i dan saya bilang oke, sayang ternyata penawar dah gak bisa dihubungi lagi. yah begitulah rizki jika belum saatnya datang hehehe...
TERUS ..karya yang di bawah ini saya beri judul Harimau. Awalnya saya terinspirasi dari sobekan bungkus AUTAN Lotion Anti Nyamuk yang disitu ada gambar kepala harimau Sumatra. Kemudian saya ambil dari tanah kemudian saya bersihkan saya lap pakai kain celana saat itu. Saya lihat kog bagus, kemudian saya ada ide untuk memindahkannya diatas kanvas. Dan kebetulan sekali kanvas yang ada hanya itu, maka saya langsung skets diatasnya dengan pensil dulu waktu itu (padahal saya kalau mengajari kalian khan saya sarankan jangan menggunakan pensil..) karena itu dulu. Kalau sekarang saya tak lagi menggunakan pensil melainkan langsung dengan kuas cat minyak. Karena saya rasakan pengaruhnya menjadi lebih berani dalam menggores. Tidak takut-takut lagi menggores seperti dulu. Kalian coba aja jika masih mengalami rasa takut seperti yang saya alami dulu..Dan sesungguhnya melukis itu tidak harus persis. Lantas bagaimana nanti kalau tidak bagus? Maka saya katakan : ” karya bagus dan tidak bagus itu sesungguhnya hanya terletak pada kesungguhan kita untuk berkarya saja.” Bagaimana orang bisa mengatakan karya itu bagus kalau yang membuat tidak bersungguh-sungguh. Begitu juga sebaliknya. Dan kesungguhan itu terlihat dari seberapa gigih usaha kita dalam belajar, rutinitas latihan, dan semangat untuk selalu menambah karya. Sudah. Ituaja. Apalagi. Saya aja sampai saat ini juga masih terus belajar dari pengalaman orang-orang yang lebih luas ilmunya. Maka jangan sampai kita berhenti kecuali sudah mati. Bagaimana .. kira-kira se 7 gak ..
Judul Harimau 115×145 cm karya Rahmanu. Lukisan ini tidak aku jual, saya koleksi aja sendiri. Soalnya aku suka sekali lukisan kucing sumatera ini
Kemudian dibawah ini adalah karya saya yang berjudul “Blue Rose” (mawar biru) yang kata orang yang pernah melihatnya dinamai dengan sebutan karya “gak dadi ” (belum jadi,red). Jadi yah belum layak dipajang begitulah maksud mereka, atau mungkin bisa berarti belum layak untuk dimintakan masukan kekurangannya apa paling begitu. Namun setelah saya lihat lama-lama ketemu juga maksudnya. Yaitu ternyata memang benar-benar saya akui belum jadi sungguhan. Ini mungkin disebabkan karena banyak hal.Kurang tamat bisa..kurang lama, bisa. Kurang sungguh-sungguh, bisa. Ya begitulah gambarannya. Ya intinya saya harus lebih smangat dan bersungguh-sungguh lagi dalam berkarya. Dan itu dengan sadar saya akui. Hehehe…sulit juga yah berkarya itu..Tapi masukan itu tentu bagus juga demi masa depan nasib saya.. Ini dia karya saya yang berjudul : Blue Rose.
Ada INFO Pameran BEINALLE JATIM III
Subjek: Formulir Biennale Jatim 2009
Mengurai akar budaya
Ketika berbicara mengenai akar budaya maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah kesenian tradisi kita yang telah dilupakan,terpinggirkan dan tidak dikelola, dihidupi sebagai spirit untuk melahirkan karya-karya seni kekinian. Akar budaya tersebut tidak dipelajari sebagai sebuah ruang yang membangun keasalan hidup. Padahal pada budaya lokal kita akan mendapatkan pelajaran hidup tentang kearifan lokal,kepandaian dan kejeniusan lokal yang pada masa lalu bisa dilihat pada bangunan candi,relief candi,lukisan kaca,wayang beber,damar kurung,topeng tradisi,keramik malo,batik tulis dan sebagainya.
Pada realitasnya biarpun akar budaya itu telah menyatu dalam tubuh yang membentuk sebagai manusia sekitar pesisiran,perbukitan,sungai brantas,Candi,perkotaan,dan pegunungan. Budaya itu tidak nampak karena yang dipelajari hanya kulitnya belum pada esensinya. Maka yang lahir ketidak mengertian kita tentang budaya kita sendiri yang sehari-hari telah menyatu dengan ruh,darah,dan jiwa.
Keindahan lokal yang penuh makna hanya dipahami sebagai sesuatu yang akan membawa pada romantisme “kelangenan”. Betulkah ?
Mari dalam Biennale Jawa Timur III 2009 ini kita urai benang-benang akar itu untuk menumbuhkan spirit melahirkan karya-karya seni rupa kontemporer yang berdasarkan akar budaya kita masing-masing.
berhenti sejenak untuk mengurai lalu mengeksplorasi apa yang telah kita dapat pada akar budaya yang sebenarnya telah lama masuk dalam kehidupan kita.
Bukan berarti kita harus menggambar wayang kulit,lukisan kaca,wayang beber dan lainya. Tetapi bagaimana kita mengeksplorasi lalu membuat eksperimentasi yang akan melahirkan karya baru dalam ranah seni rupa di Indonesia.
Tim: Freddy H. Istanto (Konsultan),Asri Nugroho, Agus Koecink
KETERANGAN KARYA
BIENNALE JATIM 2009 UNDANGAN TERBUKA
Nama Perupa: …………………………………………
Alamat : ……………………………………………………….
I
Judul Karya : ……………………………………………………………
Jenis Karya : ……………………………………………………………
Media : ……………………………………………………………
Ukuran : ……………………………………………………………
Tahun Pembuatan : ……………………………………………………………
Harga Jual Karya : ……………………………………………………………
Taksiran Biaya Produksi : ……………………………………………………………
Konsep Singkat : ……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
II
Judul Karya : ……………………………………………………………
Jenis Karya : ……………………………………………………………
Media : ……………………………………………………………
Ukuran : ……………………………………………………………
Tahun Pembuatan : ……………………………………………………………
Harga Jual Karya : ……………………………………………………………
Taksiran Biaya Produksi : ……………………………………………………………
Konsep Singkat : ……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
……………………………………………………………
FORMULIR KESERTAAN UNDANGAN TERBUKA
Peserta melamar dengan mengajukan proposal karya dalam bentuk cd + photo 10 R kirim ke alamat Surat.Tim kurator akan menyeleksi karya yang diajukan sesuai dengan konsep kuratorial.
Alamat Surat :
Sekretariat Biennale Jawa Timur 2009: Sozo artspace : Jl.Raya Darmo Permai Timur 18/BC -1 Surabaya. Email: koeciank@yahoo.com. Telp: 081803316545
BIENNALE JATI M III 2009
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama ——————————————————————-
Alamat ——————————————————————-
——————————————————————-
Tel/Fax ——————————————————————-
E-mail ——————————————————————-
No Rek. Bank ————————————————————–
1.Tidak mewakilkan penandatanganan pernyataan ini pada pihak lain.
2.Mengirimkan CV, foto karya, konsep karya, dokumen pengalaman berkarya dan materi lain yang menjelaskan perjalanan karir saya sesuai dengan tanggal yang ditentukan untuk bahan publikasi (katalogus, undangan, dsb).
3.Mengirimkan2 buah photo karya saya sesuai dengan tanggal dan persyaratan teknis yang diminta untuk disertakan pada Biennale Jawa Timur 2009.
4.Menyatakan tidak keberatan semua data yang terkirim digunakan untuk keperluan publikasi dan pembuatan katalogus.
5.Menyatakan bahwa karya yang disertakan adalah karya milik pribadi (bukan koleksi pihak lain) dan belum pernah dipamerkan di Surabaya atau tempat lain.
6.Menyatakan bahwa karya saya (dapat / tidak dapat)* diperjualbelikan.
7.Menyatakan bersedia bekerja sama dengan kurator pelaksana dan manajemen Biennale Jawa Timur 2009 demi kelancaran pelaksanaan pameran.
8.Menyetujui semua mekanisme pameran yang diminta Biennale Jawa Timur 2009.
9.Jika terjadi masalah di luar rencana yang telah disepakati, saya bersedia berunding secara kekeluargaan untuk mencari solusi sebaik mungkin.
Demikian pernyataan ini dibuat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.
……………………………….. 2009
(…………………………………….)
——————–


KOMENTAR PEMBACA